Tampilkan postingan dengan label Sketsa Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Maret 2014

Bukan Roman Picisan

ini....
untukmu, 
hei manusia...
yang sedang terjebak dalam ruang nostalgia...
dariku...
yang hanya sebutir debu ditengah jelaga

hei kamu....
yang sedang mengais remah-remah kisah lalu yang terserak
kisah yang sempat terkoyak meskipun bukan berarti tak layak
tak layak jika disebut usang dan terbuang
kumpulan kisah yang kini mulai terhimpun kembali hari demi hari
kenangan tentang sosok dia yang pernah ada
yang pernah ada sebelum kini menghilang entah kemana
lalu hadir kembali dalam wujud yang nampak sekali berbeda
kemudian lenyap ditelan senyap, bak asap yang terhisap dalam gelap.
karna melepaskan berarti mendapatkan
dan memiliki adalah kehilangan.

kini dengarkan.....
Biarkan ku mendekam dalam diam
dan mendekap senyap tanpa ucap
beri waktu bagi sebentuk kejenuhan,
agar perlahan menguap lenyap dalam lelap.

*untuk seorang sahabat yang katanya mengagumi karya puisi2ku yang picisan



Sabtu, 15 Februari 2014

Valentin vs Vulkanik

Pagi itu, 14 Februari.........

Ketika hari kasih sayang berkumandang...
dibelahan bumi yang lain dirundung malang
ketika perayaannya hampir berdengung
tiba-tiba gaung gunung meraung-raung

saat sinabung masih berkabung...
kelud berkalang kabut....
carut marut dalam kemelut.
kalut...

Kala fajar menjelang...
Pancang bumi berguncang
Tingginya yang menjulang..
Meniupkan angin kencang...
Aduhai....seolah semua akan hilang
Lenyap dalam abu
Sirna ditelan waktu

ternyata dunia sudah mulai renta...
dengan segala kerapuhannya..
duka yang menyelimuti...
seolah tiada henti..

masih berharap ini ilusi...
yang sebenarnya tak terjadi
berpikir ini halusinasi..
atau hanya sekedar mimpi disiang hari....

alam kembali menyapa penghuninya....
berpesan untuk selalu mawas diri...
awan pekat membawa amanat
agar kita jangan lupa diri...
mengeja titah....untuk segera berbenah
masihkah ada alasan untuk tidak menyadari.....

bahwa PASTI......kita akan kembali.

Kamis, 13 Februari 2014

Maaf, tapi aku rindu......

Mereka bilang, sendiri itu sepi……
Bagiku, sepi itu seni,
Kata mereka, kesepian itu kesedihan…
Aku bilang, sunyi itu keindahan.
Dalam tak bergeming, ada seni yang indah.

Katanya…malam itu mencekam,
Menurutku….kelam itu ketenangan dalam diam..
Diam yang mendamaikan.

Karna sepertinya sunyi…
Yang melatih kita melukis pagi,
Pun sepi….
Yang mengajar kita menyapa pelangi,
Dan denting, hanya terdengar dalam hening…
Yang dibimbing oleh gerak angin yang dingin.

Bukankah sunyi...
Yang membuat kita mendengar bunyi?
Dan dalam sepi…..
untaian diksi menjelma jadi bait puisi….
Bukankah dalam hening kita berbaring?
dan dalam senyap kita tetap terlelap..

mereka….
yang membimbing kita menggenggam duka,
memeluk luka….dan bercumbu dengan lara.

Sendiri itu hanya aku dan Dirimu,
Terdiam dalam rindu yang syahdu.
Rindu yang menggebu.
Dalam sunyi….aku ingin Kau hampiri..
Dalam senyap…..aku ingin Kau dekap..
Dalam kelam….aku ingin tenggelam
Tenggelam dalam seribu pilu yang menderu…
Oh, aku rindu…..

Peluk aku, lebih erat dari waktu itu....
Bukankah hanya ada Kau dan aku?
Persetan dengan apapun selainMu,
Akan kukatakan semua isi hatiku padaMu
Dan pura-pura tak tahu
kalau sebenarnya kau  sudah tau tentang itu,
Oh sungguh, aku rindu……

Senang bisa bermesraan begini denganMu
Senang….
Ya, aku senang..

___Dawn Bee___


Jumat, 07 Februari 2014

Filosofi Berkendara Episode 2

kelanjutan yang pertama......

Terkadang maju atau mundur sama-sama “dilema”

Berkendara itu harus pandai membaca rambu-rambu lalu lintas, pengendara yang baik adalah yang  pandai membaca rambu dan memahami petunjuk jalan/arah, demikianlah hidup.

Jika kita berusaha melanggar peraturan, maka sesuatu yang buruk mungkin bisa terjadi pada kita, demikianlah jika kita melanggar aturan-aturan kehidupan,

Bertoleransi pada pengendara untuk berbagi jalan, toleransilah dalam hidup dan saling berbagi,

Dalam berkendara, jika kita yakin dan berani, maka orang lain akan takut dan segan, mereka akan mempersilahkan dan memberi jalan, tapi jika kita ragu-ragu dan takut, maka orang lainlah yang akan yakin dan akan mengambil jalan (menyerobot) maju, maka yang lain akan menyingkir.

Tidak semua pengendara mempunyai tujuan/arah yang sama, pastinya berbeda-beda walaupun sempat melewati jalan yang sama, aspal yang sama, itulah hidup.

Tidak mengikuti tuntunan petunjuk jalan, maka akan tersesat. Begitulah hidup, tidak mengikuti buku panduan hidup/petunjuk, maka akan nyasar/tersesat

Meski sempat /terlanjur tersesat, namun kita tetap punya kesempatan untuk kembali, dan menempuh jalan yang benar untuk tiba ditujuan. Demikianlah hidup ini kawan!!

Jalanan aspal tidak selalu mulus dan bagus, seringnya kita temukan jalan yang rusak, terjal berbatu, berlubang dan berkubang, tak ubahnya kehidupan kita,

Terkadang kita mengaggap kitalah yang terhebat, kita yang tercepat, sampai tiba-tiba seseorang yang jauh lebih cepat melesat dan mendahului kita dan meninggalkan kita yang terhenyak diam dalam segala kesombongan yang tercabik-cabik,

Terkadang ada yang menumpang pada kendaraan kita, bersama-sama kita tapi sebenarnya tujuan akhir kita berbeda,

Banyak anggapan bahwa berkendara adalah keahlian mayoritas laki-laki, padahal betapa banyak wanita yang kemampuan berkendaranya lebih jago dari kaum lelaki yang katanya “macho”

Cukuplah pengalaman kecelakaan yang terjadi pada orang lain menjadikan kita berhati-hati agar hal serupa tidak pernah terjadi pada kita,

Jika tujuan memakai helm hanya karna takut ditilang polisi, maka bisa jadi kamu selamat dari polisi, tapi tidak selamat dari hal lain,

Terkadang para pengendara itu begitu membenci para polisi, entah polisi bangun ataupun polisi tidur, padahal sering tidak disadari kalau sebenarnya mereka begitu berjasa bagi keselamatan hidup kita,

Kendaraan kita, rusak disatu bagian, kita bawa ke bengkel, diperbaiki, kemudian besoknya rusak dibagian lain, kita benahi, tak lama kemudian pada tempat yang lain terjadi kerusakan yang tentunya kesemuanya itu menelan biaya yang tidak sedikit. Demikianlah, dalam berbenah, tidak cukup hanya sekali dan pada satu bagian saja, tapi keseluruhan hidup kita yang memang memerlukan perbaikan maka perlu kita perbaharui,  dan semua itu adalah proses hidup yang tidak instan.



Rabu, 11 Desember 2013

Filosofi Berkendara

Pada kendaraan, kaca bagian depan selalu lebih besar dari kaca spion. Karna kita harus lebih fokus menatap ke depan daripada menengok ke belakang, sesekali memang butuh untuk melihat ke belakang, agar kita berkaca pada sejarah hidup dimasa lalu, supaya kedepannya kita bisa lebih mawas diri dan berhati-hati, namun perhatian terbesar kita tetap harus kearah depan.

Hidup ini seperti roda kendaraan, kadang berputar ke atas, namun sejurus kemudian berpindah ke bawah. Kadang gemilang dengan kesuksesan, namun kemudian tenggelam kelam dalam keterpurukan.

Seperti motor/mobil,  kadang begitu cepat bergerak melesat, namun terkadang begitu lambat berjalan, layaknya waktu, kadang terasa begitu cepat berlalu, namun kadang begitu lambat ditunggu.

Tentunya kita  tidak suka jika kendaraan yang melaju didepan kita bergerak begitu lamban, rasanya tidak  sabar untuk kita maendahului, terlebih lagi jika kita sedang terburu-buru dan cepat-cepat untuk bisa segera tiba ditujuan, maka demikianlah hidup, tentunya kita tidak suka melihat orang yang lamban/lelet, apalagi kalau kelambanan itu menghalangi kita untu bisa cepat sampai pada tujuan hidup kita.

Dalam berkendara, jika kita tidak cepat dalam mengambil keputusan, maka hal itu akan berdampak bagi orang lain, kalau kita lama tertegun dalam kebimbangan, antara hendak belok ke kiri atau ke kanan, atau akan terus lurus kedepan, diam dalam kebingungan dan tidak segera mengambil keputusan, maka para pengendara dibelakang atau didepan kita akan ikut bingung antara harus terus maju atau menunggu kita melakukan tindakan, orang melihat kita ragu dan melambatkan kendaraan, namun tidak menyalakan lampu sen yang menunjukan akan kemana kita. Seperti itulah hidup, cepat atau lambat keputusan yang kita ambil, akan mempengaruhi orang lain dalam mengambil keputusan.

Layaknya berkendara, berkomunikasi tanpa suara adalah hal yang sangat biasa. Tanpa kata kita harus bisa saling memahami maksud orang lain, dapat membaca arah dan pandai memperhitungkan.

Dalam berkendara, terkadang kita begitu menggebu-gebu ingin jadi yang tercepat, adrenalin kita tertantang untuk jadi yang terdepan dan tak terkalahkan. Maka seperti itu pula hidup ini. Terkadang manusia begitu berambisi untuk jadi yang terbaik dan terhebat, sehingga tak membiarkan orang lain mendahului kita.

Dalam berkendara, kita harus mempunyai tujuan,  demikianlah hidup, Hendak kemana dan hendak apakah tujuan akhir hidup kita?

Terkadang hal-hal yang tidak terduga terjadi dalam hidup, misalnya, saat ditengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan dan kita harus berhenti dulu beberapa saat untuk mengenakan jas hujan,  kemudian melanjutkan kembali perjalanan, atau kita memutuskan untuk berhenti dulu saja dan menunggu sampai hujan reda baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Seperti berkendara, jika kita kurang teliti, kurang persiapan matang, maka kita akan menemui kesulitan, misalnya : ketika bahan bakar kendaraan kita hampir habis namun kita tidak segera mengisi ulang, dan kemudian ditengah jalan kita kehabisan bahan bakar, sedangkan tempat penjualan bahan bakar eceran atau pom SPBU masih sangat jauh dari tempat perhentian kita, maka kita akan repot/ribet sendiri. Begitupun hidup, jika tanpa persiapan, maka kita akan kelabakan ketika dihadapkan pada kejadian-kejadian yang tak terduga.

Setiap pengendara, pasti mempunyai satu karakter yang melekat yang menjadi cirikhas dia dalam berkendara. Begitupun hidup, setiap orang pasti menggunakan caranya sendiri dalam menjalani kehidupannya.

Berkendara itu harus berhati-hati dan butuh kesadaran penuh agar terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan, maka demikianlah hidup, jika tidak berhati-hati menjalani hidup, maka akan sulit menghindari diri dari hal-hal yang membahayakan.
 
Lebih baik cepat/ngebut tapi yakin, daripada lambat/pelan tapi penuh keraguan, kita memang harus selalu berhati-hati, namun terkadang terlalu berhati-hati pun tidak baik.

Boleh saja melesat secepat kilat, asalkan tetap tau kapan harus berhenti, jangan sampai membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Perjalananan yang kita tempuh selama berkendara terkadang penuh liku, terjal dan berkelok tajam, tak selamanya lurus dan mulus. Maka seperti itulah kehidupan.

Begitu banyak arah yang bisa kita tempuh dalam berkendara, tapi tetap saja, belok itu hanya ada dua, ke kanan atau ke kiri. Begitu banyak arah hidup yang bisa kita tempuh, tapi tetap saja pilihannya hanya dua, kebaikan atau keburukan. Dan kita, tetap harus memilih.

Kendaraan dirancang untuk berjalan maju kedepan, bukan untuk mundur kebelakang. Bukan pula untuk diam saja ditengah jalan.  Maka demikianlah hidup, kita hidup untuk terus maju, bukan surut dan mundur kebelakang, juga bukan untuk jalan ditempat tanpa ada perubahan.
Meskipun demikian, terkadang ada suatu masa, dimana mundur kebelakang adalah jalan yang bisa menyelamatkan kita dari kebinasaan.

Orang yang dari awalnya tidak bisa berkendara, namun karna ada keinginan dan tekad yang kuat, semangat yang besar untuk bisa, mau belajar dan terus berlatih, maka pada akhirnya mampu mengendalikan kendaraan dengan baik. Memperbanyak pengalaman dan jam terbang dalam berkendara akan membuat nyali kita semakin besar dan mengikis rasa ragu.  Hidup kita pun seperti itu, ketika kita mempunyai impian, maka dibutuhkan semangat dan kemauan yang besar dalam membuat mimpi itu terwujud.

Jangan pernah berhenti mencoba, meski gagal, cobalah lagi dan lagi. Jangan menyerah, temukan apa yang menjadi penyebab kegagalan, lalu carilah solusinya, tak ubahnya mencoba menghidupkan kendaraan kita, terkadang langkahnya sudah benar, kita menekan tombol start disebelah kanan, namun tak ada respon apapun dari kendaraan tersebut, lalu kita coba tekan sekali lagi tombolnya, masih belum ada perubahan. Tidak menyerah sampai disitu, sekali lagi kita coba tekan, tapi tetap saja tidak ada perbedaan, maka kemudian kaki kita yang bekerja, menginjak dan menekan kuat-kuat selah besi sebagai cara lain menghidupkan mesin, meskipun melakukannya membutuhkan energi besar, tapi kita harus terus melakukannya. Gagal, mencoba lagi, lagi dan lagi sehingga akhirnya suara mesin terdengar menderu-deru sebagai tanda bahwa perjuangan telah berhasil.

Meskipun standard 1 sudah cukup kuat untuk menopang kendaraan agar tidak terjatuh, tetapi tak bisa dipungkiri, dengan standard 2 tetap lebih kokoh dan kuat, membuat kendaraan kita takkan mudah goyah ketika diparkir disuatu tempat.  Maka begitulah keimanan dalam hidup, semakin besar iman dan keyakinakan kita, maka akan semakin kuatlah pendirian kita sehingga takkan mudah digulingkan apalagi tergoyahkan.



Kenali kendaraanmu dengan baik, maka kau akan mudah mengendalikan dan mengendarainya. Kenali dirimu dengan baik, maka kau akan mudah mengarahkannya.

to be continued......................

Sabtu, 07 Desember 2013

Lapar yang tertunda.

Hari ini gak nulis dulu, kepala lagi agak puyeng, I just wanna lay on my bed. Mungkin karna kemaren keujanan, ah tidak, aku tak menyalahkan hujan, salahku yang membiarkan tetesan bulirnya menembus dan merembes dikepalaku.

disuruh mama beli rendang padang malah mampir ke warnet. gak papa lah, toh nasi dirumah juga belom mateng. sambil nunggu gak ada salahnya nongkrong bentar di blog. Ntar kalo ditanya kenapa lama banget beli rendangnya tinggal jawab aja “kan katanya beli rendang padang, ya wajar aja lama, wong belinya di Padang” 

Rencana hang out ke monas pun dibatalkan, karna cucian dan gosokan memang cukup layak jadi alasan atas sebuah kegagalan. Akhirnya impian tuk bisa menyaksikan pagelaran festival budaya n seni terbesar n pertama kali didunia pun kukubur dalam-dalam.

Teringat kisah hari kemarin, nonton bersama sahabat. "Sokola Rimba", Butet Manurung, sosok yang sangat menginspirasi, seorang guru yang mendedikasikan dirinya untuk mengajar di hutan pedalaman Jambi, dimana ilmu pengetahuan malah dianggap sebagai penyebab kutukan, pembawa malapetaka. Raja Penyakit. Sehingga buta huruf membuat mereka gampang untuk dibodohi, membubuhkan cap jempol pada surat perjanjian yang merugikan. Padahal wawasan merupakan senjata tajam melawan pengelabuan. Hingga akhirnya mata mereka terbuka lebih lebar dalam melihat dan memandang arti sebuah pembelajaran. 

Iri sama Butet, yang hidupnya begitu bernilai dan penuh arti bagi yang benar-benar membutuhkan. 
dia dicintai. dia diinginkan. ketiadaannya adalah sebuah kehilangan, kenestapaan dan kesedihan massal. 
Lantas bagaimana denganku? siapa aku? sudahkah aku bermanfaat bagi orang lain? Insya Allah, semoga. aamiiiiin.

"khoirunnaas, anfauhum linnaas" _sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (hadits)

Minggu, 08 Januari 2012

kumpulan link pepatah, kata bijak, kata-kata mutiara, quotations dan mahfudzot

"Education Quotations"

  • "I like a teacher who gives you something to take home to think about besides homework." -- Edith Ann, [Lily Tomlin]

  • "You teach best what you most need to learn." -- Richard David Bach

  • A mind once stretched by a new idea never regains its original dimensions.
    - Anonymous

  • A professor is one who talks in someone else's sleep.
    - Anonymous

  • A university is what a college becomes when the faculty loses interest in students.
    - John Ciardi

  • A university professor set an examination question in which he asked what is the difference between ignorance and apathy. The professor had to give an A+ to a student who answered: I don't know and I don't care.
    - Richard Pratt, Pacific Computer Weekly, 20 July 1990

  • "Time is a great teacher, but unfortunately it kills all its pupils." -- (Louis) Hector Berlioz

  • Academy: A modern school where football is taught.
    - Ambrose Bierce (1842-1914) - The Devil's Dictionary, 1911

  • An expert is a man who has made all the mistakes which can be made, in a narrow field.
    - Niels Bohr (1885-1962)

  • Education ... has produced a vast population able to read but unable to distinguish what is worth reading.
    - G. M. Trevelyan

  • Education is a method whereby one acquires a higher grade of prejudices.
    - Laurence J. Peter

  • An expert is one who knows more and more about less and less.
    - Nicholas Murray Butler

  • Education is a progressive discovery of our own ignorance.
    - Will Durant

  • Education is what remains after one has forgotten everything he learned in school.
    - Albert Einstein (1879-1955)

  • Experience is a good school, but the fees are high.
    - Heinrich Heine

  • Experience is a great advantage. The problem is that when you get the experience, you're too damned old to do anything about it.
    - Jimmy Connors

  • Experience is not what happens to you. It is what you do with what happens to you.
    - Aldous Huxley

  • "Who dares to teach must never cease to learn."
    -- John Cotton Dana

  • "A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops."
    -- Henry Brooks Adams

  • "What we want is to see the child in pursuit of knowledge, and not knowledge in pursuit of the child."
    --George Bernard Shaw

  • "Good teachers are those who know how little they know. Bad teachers are those who think they know more than they don't know."
    -- R. Verdi

  • "Learning is what most adults will do for a living in the 21st century."
    -- Perelman

  • "Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world."
    -- Albert Einstein

  • "I have never let my schooling interfere with my education."
    -- Mark Twain

  • "Education is not the answer to the question. Education is the means to the answer to all questions."
    -- William Allin

  • "Experience is a hard teacher because she gives the test first, the lesson afterward."
    -- Vernon Law

  • "I may have said the same thing before... But my explanation, I am sure, will always be different."
    -- Oscar Wilde

  • "Anyone can steer the ship when the sea is calm."
    -- Publilius Syrus

  • "The main part of intellectual education is not the acquisition of facts but learning how to make facts live."
    -- Oliver Wendell Holmes

  • "Formal education will make you a living; self-education will make you a fortune."
    -- Jim Rohn

  • "Education is that which discloses to the wise and disguises from the foolish their lack of understanding."
    -- Ambrose Bierce

  • "Getting things done is not always what is most important. There is value in allowing others to learn, even if the task is not accomplished as quickly, efficiently or effectively."
    -- R.D. Clyde

  • "Education costs money, but then so does ignorance."
    -- Sir Claus Moser

  • "In large states public education will always be mediocre, for the same reason that in large kitchens the cooking is usually bad."
    -- Friedrich Nietzsche

  • "The only person who is educated is the one who has learned how to learn and change." -- Carl Rogers

  • "A liberally educated person meets new ideas with curiosity and fascination. An illiberally educated person meets new ideas with fear."
    -- James B. Stockdale

  • "An educational system isn't worth a great deal if it teaches young people how to make a living but doesn't teach them how to make a life."
    -- Source Unknown

  • "Education makes people easy to lead, but difficult to drive; easy to govern, but impossible to enslave."
    -- Henry Peter Broughan

  • "It is possible to store the mind with a million facts and still be entirely uneducated."
    -- Alec Bourne, A Doctor's Creed

  • "It is important that students bring a certain ragamuffin, barefoot, irreverence to their studies; they are not here to worship what is known, but to question it."
    -- J. Bronowski, The Ascent of Man

  • "The best teacher is the one who suggests rather than dogmatizes, and inspires his listener with the wish to teach himself."
    -- Edward Bulwer-Lytton

  • "A teacher is one who makes himself progressively unnecessary."
    -- Thomas Carruthers

  • "The authority of those who teach is often an obstacle to those who want to learn."
    -- Cicero

  • "An education isn't how much you have committed to memory, or even how much you know. It's being able to differentiate between what you know and what you don't."
    -- Anatole France

  • "I cannot teach anybody anything, I can only make them think."
    -- Socrates

  • Teachers open the door, but you must enter by yourself."
    -- Chinese Proverb

  • "The task of the modern educator is not to cut down jungles, but to irrigate deserts."
    -- C. S. Lewis

  • "Education would be so much more effective if its purpose were to ensure that by the time they leave school every boy and girl should know how much they don't know, and be imbued with a lifelong desire to know it."
    -- Sir William Haley

  • "I am beginning to suspect all elaborate and special systems of education. They seem to me to be built up on the supposition that every child is a kind of idiot who must be taught to think."
    -- Anne Sullivan

  • "Education's purpose is to replace an empty mind with an open one."
    -- Malcolm Forbes -

    source : http://www.etni.org.il/quotes/education.htm

Senin, 12 Desember 2011

is reading...............



tenggelam bersama 'perahu kertas',
hanyut menyelam semakin dalam.....

dan aku terhempas ke lorong waktu...
sepuluh tahun yang lalu.......

tahun 2000....

semakin mengagumimu.......


saya adalah salah satu pembaca setia novel-novel Tere-Liye, walaupun belum semua novelnya sudah saya baca, padahal ingin sekali saya memiliki dan mengoleksi semua novel-novelnya yg tidak pernah tidak saya suka.

semua novel yg ditulis seorang Tere-Liye selalu mampu menyentuh dinding terkeras dihatiku, menjotos-jotosnya hingga menembus ruang paling rapuh disudut terdalam hatiku, tempat dimana bendungan air mata berada disana, kata-kata Tere-Liye benar-benar telah menyodok-nyodok tanggul penahan bendungan itu sekuat-kuatnya, dan akhirnya jebol, tumpahlah seluruh air dalam bendungan itu setumpah-tumpahnya, mengalir dan terus membanjiri mata, menetes satu demi satu, pelan, perlahan menderas dan semakin deras...tak bisa lagi tertahan....mengalir seikhlas-ikhlasnya, mengalir pula segala rasa perih di jiwa, beban yg selama ini terpendam...sedih yg selama ini disembunyikan, melegakan, meringankan,,,hingga pedih batin pun lenyap sudah, hanyut bersama derasnya arus dan berubah menjadi bulir bulir bening airmata (aih maaf jadi berlebihan gini).

Bidadari-Bidadari Surga, salah satunya, novel yg saya pinjam dari sahabat saya ini (terpaksa pinjam karna jatah beli buku bulan ini sudah habis bahkan sudah melebihi batas yg seharusnya) benar-benar mengingatkan saya pada seseorang, pada sesuatu, pada sebuah keganjilan dan pertanyaan terbesar dalam hidup saya....seolah mozaik-mozaik hidup saya satu demi satu terkumpul semua didalam novel setebal nyaris 5 centi itu.....

membayangkan sosok Laisa dalam novel itu, seolah membaca seseorang yg begitu familiar dlm hidupku, apa yg ia lakukan seolah mengantarkanku pada alam Dejavu yg benar-benar mengaduk-ngaduk emosi dan perasaan,
bahkan jika seandainya novel ini dilayar lebarkan, ingin sekali rasanya untuk bisa memerankan tokoh Laisa, sebagaimana gambarannya dalam novel itu...tapi bukan untuk berakting, bukan berpura-pura, melainkan mencoba menjadi diri sendiri, diriku yg sesungguhnya, menjalani kehidupanku yg begitulah adanya....ah sudahlah, bagaimanapun aku tak pernah bisa sesempurna seorang "Laisa" dgn segala keikhlasannya, dengan segenap ketulusannya.
satu hal yg mungkin begitu sulit ku teladani dari seorang Laisa adalah "mampu untuk 'selalu' menyembunyikan semua kesedihannya" sehingga dia nampak seperti wanita paling tegar di planet bernama bumi ini, padahal sejatinya Laisa tetap saja seorang wanita dengan segala kodratnya, yg mudah sekali tersentuh perasaannya.....tapi aku tetap ingin memiliki semua sifat-sifat yg dimiliki oleh seorang 'Laisa", yg seluruh hidupnya adalah manfaat bagi orang lain, yang pengorbanannya adalah kebahagiaan orang lain.

banyak sekali pelajaran berharga yg saya petik dari novel Bidadari-Bidadari surga ini, bahkan jika mungkin tidak dianggap berlebihan, saya mengasumsikan bahwa membaca novel-novel Tere-Liye adalah cara indah memahami isi kitab suci, adalah cara lain memaknai hadist2 nabi. Membuat kita semakin bersemangat untuk mempelajari dan mentadabburi isi yang terkandung dalam kitab suci yg berisikan kalimat-kalimatNya yg Agung.

Dengan membaca novel-novel Tere-Liye yg tidak terkesan terlalu religius tapi berisikan pesan-pesan religi yg begitu menyentuh sisi kemanusiaan, siapapun akan mengakui bahwa Islam itu agama yg Indah, bahwa ayat-ayat Allah adalah perkataan yg maha sempurna dan kebenaran yg paling hakiki, membaca novel Tere-Liye tidak hanya menyenangkan, tapi juga menyadarkan....tidak hanya melenakan, tapi mengingatkan....takjub, dan sadar bahwa Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber bacaan yg wajib dijadikan pedoman dalam menapaki langkah demi langkah dikehidupan yg telah dihadiahkan olehNya, oleh Sang Maha Hidup..

untuk sahabat-sahabatku : "saya rekomendasikan pada kalian untuk membaca karya-karya indahnya seorang Tere-Liye, lalu hadiahkanlah untuk orang-orang tersayang anda....untuk orang-orang yang terindah....

untuk Tere-Liye......teruslah berkarya, teruslah berdakwah dgn cara yg indah!!! :)

Kamis, 21 Juli 2011

Kadang apa yg kamu tolak justru apa yg kamu butuhkan


Seorang musafir muda tersesat di padang pasir, berhari-hari tidak makan dan minum. Sedemikian kehausan sehingga berjalan terseok-seok. Sepatu dan pakaiannya sudah rusak, rambutnya kusut masai dan berantakan tertiup angin. Hampir putus asa, akhirnya bertemu dengan musafir perempuan yang naik kuda dan membawa dua kantung besar air. Dimintanya air barang beberapa teguk pada perempuan itu, namun perempuan itu tak mau memberikan, malah ujarnya “Aku sendiri perlu air ini untuk perjalanan jauhku, jika kau mau kuberikan kamu topi,” seraya mengambil topi lain yang ada di tasnya. Musafir muda ini menolak pemberian topi, dan bersikeras meminta air. Demikian pula perempuan ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi topi. Akhirnya musafir muda ini marah dan pergi.

Dua ratus meter kemudian ia berjalan terseok-seok, akhirnya bertemu dengan musafir laki-laki tua yang naik keledai dengan membawa dua kantung besar air juga. Dimintanya air barang beberapa teguk pada laki-laki tua itu, namun laki-laki tua itu tak mau memberikan, seraya berujar, “Aku sendiri juga perlu air ini untuk perjalanan yang masih jauh, jika kau mau kuberikan kamu sepatu,” katanya sambil mengambil sepatu lain yang ada di tasnya. Musafir muda ini menolak pemberian sepatu itu, dan bersikeras meminta air. Namun laki-laki tua ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi sepatu. Akhirnya musafir muda ini tambah marah dan pergi. Selang lima ratus meter dari situ, ia tiba di sebuah oasis besar yang airnya sangat jernih dan teduh. Dengan bergegas ia menuju tepi air untuk mengambil minum. Namun tiba-tiba telah berdiri di depannya dua orang tentara kerajaan yang menjaga oasis itu, sambil berkata “Dilarang keras mengambil air ini, kecuali kamu memakai topi dan sepatu!”.

Kadang kita menolak suatu pemberian ilmu atau nasihat dari orang lain hanya karena kita tidak membutuhkannya saat ini, padahal kita belum tahu bahwa di kelak kemudian hari ternyata kita membutuhkannya.

--- Komunitas Mahasiswa Bogor (KOMBO) ---

Rabu, 20 Juli 2011

Kembar Tak Selalu Sama


Jono dan Joni adalah saudara kembar. Namun nasib mereka laksana bumi dan langit. Jono seorang pengusaha sukses dengan berbagai perusahaan yang dimikinya, memiliki keluarga yang saling menyayangi, dan anak anak yang lucu. Singkatnya jono memiliki keluarga yang harmonis.

Joni hanya seorang pengangguran, suka mabok, berjudi, dengan rumah kecil dan kehidupannya sangat bergantung pada saudara kembarnya, jono. Rumah kecil yang semrawut, istri dan anak-anak yang tidak terurus menambah keprihatinan bagi yang melihatnya.

Seorang wartawan mencoba melakukan investigasi tentang kondisi ini. Mengapa saudara kembar pengusaha terkenal, jono bisa tepuruk kehidupannya. Si Wartawan bertanya kepada Joni, mengapa? Jawab joni:

“Semua ini karena ayah, saya! Ayah saya dulu seorang penganggur, pemabok, suka berjudi, suka memukul mama saya, menelantarkan anak-anaknya. Jadi, wajar saja saya menjadi begini, sebab saya meniru tingkahlaku ayah saya yang juga berbuat begitu..”

Sang Wartawan justru lebih heran, bukankan ayah Si Joni sama dengan Ayah si Jono??? Lalu bertanyalah Wartawan ini kepada Jono. Mengapa??? Jawab Jono:

“Semua ini karena ayah, saya! Ayah saya dulu seorang penganggur, pemabok, suka berjudi, suka memukul mama saya, menelantarkan anak-anaknya. Saya merasakan itu sangat tidak enak.

Jadi saya tidak ingin itu terjadi pada keluarga saya, saya harus bangkit, berusaha keras untuk keluar dari kemiskinan, dan saya berjanji agar anak-anak saya tidak mendapat perlakuan seperti yang saya rasakan, karena saya tahu betapa tidak nyamannya..”

Kesuksesan kita dimulai dengan bagaimana mengubah cara pandang kita dalam menghadapi permasalahan hidup.

Jangan sampai kita menyerah pada keadaan, berusahalah untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Be positive thinking



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...